Wapres AS JD Vance Sebut Diplomasi dengan Iran Maju
Ikuti kami di Instagram @mediasumut_id Wakil Presiden Amerika Serikat (AS), JD Vance, mengungkapkan bahwa Washington mencatat kemajuan signifikan dalam dialog diplomatik bersama Iran guna meredakan konflik melalui jalur perundingan, Senin (2/11/2026).
Vance menyampaikan bahwa ia bersama Presiden Donald Trump menaruh optimisme tinggi terhadap potensi tercapainya kesepakatan damai. Kendati demikian, opsi militer tetap disiagakan penuh apabila proses diplomasi mengalami kebuntuan di tengah jalan.
Pemerintah AS menekankan bahwa prioritas utama mereka saat ini adalah memastikan Iran memberikan komitmen nyata serta dapat diverifikasi untuk menghentikan pembangunan kembali program nuklirnya.
Dalam keterangannya kepada awak media, Vance menyebutkan bahwa dirinya telah melakukan koordinasi langsung dengan Trump terkait dinamika negosiasi tersebut. Meski menilai karakter pihak Iran kerap sulit ditebak, AS tetap membuka pintu dialog selebar-lebarnya sembari menyiapkan langkah militer maupun non-militer.
“Presiden dan saya sama-sama merasa cukup optimistis mengenai prospek tercapainya penyelesaian melalui negosiasi. Kami akan terus mengupayakannya,” ujar Vance, dikutip dari Antara pada Selasa (3/11/2026).
“Pihak Iran memang selalu agak sulit ditebak, dan seperti yang selalu dikatakan oleh Presiden, dia tetap menyiapkan opsi tindakan kinetik (militer). Dia juga menyiapkan opsi non-kinetik, namun kami jelas telah mencapai kemajuan. Kita lihat saja apakah kami bisa mencapai kemajuan lebih lanjut,” tambahnya.
Lebih lanjut, Vance mengonfirmasi bahwa pihak Washington tidak menetapkan batas waktu atau tenggat khusus bagi Teheran dalam proses perundingan ini. Fokus utama AS tetap berpusat pada jaminan serta sistem verifikasi ketat agar fasilitas nuklir Iran yang sebelumnya lumpuh tidak direkonstruksi kembali.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump sempat mengutarakan bahwa pihak Iran menunjukkan keinginan untuk bernegosiasi demi mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama sembilan bulan. Menurut Trump, Iran meminta agar AS menghentikan upaya penargetan terhadap para pemimpin mereka, sebuah permintaan yang akhirnya disetujui oleh pihak Washington.
Eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah sendiri mulai memuncak sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026, yang langsung direspons dengan aksi balasan di berbagai lini. Meskipun sebuah nota kesepahaman sempat disepakati pada bulan Juni, ketegangan antarnegara masih terus berlanjut, khususnya terkait isu keamanan dan jalur navigasi pelayaran di Selat Hormuz.
